Senin, 18 Maret 2013

Ruang Hampa (cinta)


ruang tanpa kata. hanya aku, kamu, dan waktu yang terus berlalu.
cinta, hanya air mata yang turun tak terasa. hingga mata panas terasa.
cinta, hanya tanganmu yang kupegang. aku bahkan tak tau harus berucap apa. 
cinta, mata ini tak mampu memandangmu meski sekali saja.
cinta, mulut ini tak dapat menyapamu meski sekali saja.
cinta, suaramu ingatkan aku bahwa masih ada kehidupan.
cinta, kurasakan cinta terhantar dari genggamanmu.
meski tanpa kata-kata terucap dari mulutku.
meski tanpa pandangan mata dengan matamu,
aku ingin kau rasakan cintaku mengalir untukmu.
selembut kapas yang kupegang setiap pagi.
seharum masakan yang kau masak setiap hari.
sekuat genggaman tangan kita.
ruangan ini penuh meski tanpa kata-kata, tanpa pandangan mata.
hanya waktu yang terus berlalu, dan cinta kita yang mengalir setiap waktu.

(_buta & tuli_)

Sabtu, 09 Maret 2013

Ketika Itu Hujan

hujan menimang-nimang ku, menyanyikan lagu tidur untukku.
kilatan-kilatan itu memaksaku memejamkan mata dan menyembunyikan kepalaku di bawah bantal.
dalam selimut terpaksa aku menggulung diri menahan dingin.
hujan mengantarkanku kepada pelukannya yang menghangatkanku.
dalam hatiku, ku merindu mu, cinta hangat mu.

hujan mengantarkanku ke depan pintu kamarmu.
membangunkanmu dari mimpimu.
hujan membuat aku menegak secangkir susu cokelat buatanmu.
jemarimu menggapai aku.

hujan..
itu hujan..
entah berapa kali lagi akan terjadi.
hujan yang turun bersama kawanannya.
mengajak perang diriku yang sedang mengadu nasib.


Jumat, 08 Maret 2013

Tinta-Tinta Surat Cinta

cintamu hilang entah kemana,
dibawa bintang yang jatuh,
hanyut oleh sungai yang mengembara.
sekali lagi,
kata-kata cintamu pudar terhantam derasnya hujan..
langit pun telah mengutuk keberadaannya..
tinta-tinta surat cinta,
luluh terbawa air hujan yang menjemputnya..
surat cinta,
ya, itu surat cinta.
goresan-goresan yang membentuk ungkapan,
kini sudah tak lagi bermakna.
luntur, cinta.
cintaku luntur.
sekali lagi dan untuk kesekian kalinya,
aku tak merasakan manis.
dan surat cinta yang kau tulis,
tak menghilangkan jejak-jejak yang dapat ku telusuri.
hilang, cinta.
tak berbekas, tak membekas.
jangan benci aku, cinta.
deburan ombak menyerukan namamu.
kau dengar itu? ya, itu namamu.
entah mengapa, burung mengicaukan senandung yang biasanya kau nyanyikan.
mungkin badai pun akan membacakan isi suratmu.
petir memanggilku lagi.
cinta, surat cintamu kini ada di tanganku.
mungkin untuk yang kesekian kalinya.
tapi kini ia basah.
amplop putihnya sudah tak lagi putih.
cintamu pun sudah tak lagi tertulis disana.
serpihan surat berisi cintamu kini hanyut terkikis hujan.

Seonggok Surat Lusuh

Mil, ini bukan kisah hujan, mendung, dan pelangi, ataupun guntur yang memaki. Ini hanya seikat kalimat yang kutulis untukmu..


Untuk Milre Amaiya,

Aku menunggu waktu. Detik-detik yang berlalu seakan runtuh menjatuhiku. Menanyaiku alasan kenapa aku tidak bergegas ke airport, padahal ini sudah hampir waktu penerbangan. Telepon genggam terus bergetar mengoyakku, mengajak untuk beranjak.

Aku menunggumu, Mil.
Apa kamu tahu, bisa jadi ini terakhir kalinya kita bertemu. Bisa jadi, ya, bisa jadi.

Mil, aku akan kangen sama kamu.
Kamu tahu kan, tujuan penerbanganku? Jauh sekali, kan? Makanya Mil, aku akan susah bertemu kakmu, telpon saja akan sangat mahal.

Mil, aku menunggumu.
Kamu tahu kan, sifatku? Aku keras kepala, sama denganmu.

Mil, sebenarnya banyak rahasia diantara kita. Maka dari itu, sebelum aku pergi, aku ingin ada penjelasan.

Aku menunggumu, Mil.


Tertanda: Alma Iran Jahaya