Minggu, 09 Oktober 2016

Surat Untuk Adik yang Menikah Duluan

Untuk adik yang menikah duluan,
Juang Chandra Bima.

De', dulu kita selalu bareng, dari waktu masih di perut ibu malah. Terlahir sebagai saudara kembar yang cuma beda beberapa menit sama kamu, rasanya aku nggak berhak manggil kamu sebagai adik. Tapi, biarin aja lah, hehe. Orang tua kita memberi kita nama yang berbeda, tidak seperti keluarga lain yang memberi nama yang sama atau mirip untuk anak kembarnya. Aku Surya dan kamu Chandra. Aku Ares dan kamu Bima. Intermezzo.

De', aku nggak nyangka kamu memutuskan untuk menikah secepat ini. Kamu masih 23 tahun. Aku juga. Dan yang paling bikin aku kaget, kamu menikah sama temen sekolah aku, Hanifa Asmarini. Tau, Bim? Aku khawatir dia salah orang. Bukannya apa-apa, tapi, kalian kan belum pernah ketemu sebelumnya. Hani dateng ke rumah bareng sama temen-temen sekolah aku buat jengukin aku waktu sakit dan kamu ada di sana. Muka kita kan mirip banget, Bim, kamu yakin dia nggak salah orang? Hehe. Itu yang aku pikir dulu, tapi kalian udah nikah, berarti kalian udah yakin satu sama lain. Selamat berbahagia, ya, Bim. Kamu jangan sakit terus, buat istri kamu bahagia. Punya anak-anak yang baik. Nanti kita bareng-bareng lagi. Aku harap kerja di Korea nggak selama yang Ayah bilang. Sampai ketemu lagi, Bim.

Kakak yang diduluin nikah,
Surya Aresta Sufyan.

Introduction: Hanato Toya (花戸洞爺)

"Dia Toya, adikmu."
Dia sangat muda, baru berumur 7 tahun. Dia punya bentuk tubuh yang bagus dan mata yang hitam. Rambutnya hitam dan lurus. Dia Toya, adikku. Kita punya perbedaan umur yang cukup jauh, 16 tahun. Aku 23 tahun dan dia 7 tahun. Aku nggak tau harus ngobrol apa sama dia.

Ibunya, Abe Miki. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Aku cuma ingat bahwa Ayah pernah memberitahukan namanya padaku sebelum mereka menikah 8 tahun lalu. Ya, sekarang dia menikahi Ayahku, jadi namanya sekarang adalah Hanato Miki.

------------------------------------------------------------
Toya. Adik yang tidak pernah diharapkan oleh kakak-kakaknya untuk lahir. Tapi, ia hidup dengan bahagia bersama kedua orang tuanya. Sedangkan aku ditinggalkan oleh seluruh anggota keluargaku. Aku terlahir di umur lanjut dari pernikahan mereka. Apakah aku pernah diinginkan? Apakah aku pernah dicintai?

Jumat, 20 Mei 2016

Siluet

Ketika hidup terasa begitu penat,
Ketika semua pengorbanan tidak menghasilkan yang diharapkan,
Hati merasa ingin berhenti dan berhenti,
Tetapi siluet itu terjaga di setiap malam ketika aku pulang.

Ketika lelah telah menyelimuti,
Ketika kerja sudah tiada hasrat,
Siluet itu tetap menanti hadirku di setiap malam ketika yang lain tertidur lelap,
Sebuah lengkungan selalu menyambut hadirku.

Di malam ketika hanya detak jam yang terdengar,
Teh hangat disodorkan padaku di meja makan,
Kulihat tatapan lembut menatapku,
Telinga-telinga siap menyimak curahan hatiku.

Kemudian sisi hati yang lain bertanya,
“Bagaimana bisa aku mengecewakan siluet yang selalu menanti kedatanganku meski bulan hampir kembali pulang?”
Hidupku untuk membahagiakan siluet itu, bukan untuk menyerah karena hati merasa lelah

Siluet itu menyadarkanku, bahwa hidupku bukan untukku saja.


Mariska A. Setiabudi
Suatu hari, 2014

Jumat, 13 Mei 2016

Bunga Liar

Bunga liar itu memang tidak diharapkan kehadirannya. Tapi ia hadir di taman itu dengan berani. Sendiri tanpa satu pun bunga yang sama. Tapi ia menghadapi kesepian itu. Banyak yang menginjak dan ingin mencabutnya, sehingga ia menggunakan duri di sekujur tubuhnya. Banyak yang tak suka, karena menganggap bunga liar itu menyakiti. Namun sesungguhnya, ia hanya ingin melindungi dirinya.

Suatu hati, kau akan menyadari, bahwa bunga liar adalah bunga terbaik. Bunga yang hadir tak memberi syarat. Terus menemani meski banyak rintangan menghadang. Dan bertahan paling lama dibandingkan dengan bunga-bunga yang sengaja ditanam. Yang membutuhkan pupuk, minta disirami. Kalau tidak, ia akan mati. Bahkan sering tidak berbunga dan cepat mati.

Maka, bunga mana yang kau pilih? Bunga liar yang setia, atau bunga taman yang cepat mati?

Karya: Mariska A. Setiabudi
2013

Fajarku dan Senjamu

Di musim gugur yang terlihat seperti fajar dan senja di saat yang bersamaan..
Kau tau? Fajar dan senja yang tak akan pernah bertemu,
Telah membuat kami jatuh cinta.
Aku dan fajar, kamu dan senja.
Dengan begitu, kamu akan terus mempertemukan aku dengan senja.
Dan aku akan terus mempertemukan kamu dengan fajar.
Tak ada musim lain yang mempertemukan keduanya kecuali di musim gugur.
Dan di musim gugur itu pula, kita bertemu.

Karya: Mariska A. Setiabudi
2013

Meuse dan Kamu

Di Meuse, dimana semua dimulai. Dengan liputan pemandangan oranye musim gugur yang tenang. Di saat aliran Meuse begitu tenang, sebuah hati yang menggantung pada sebuah jembatan di Vise jatuh dan memecah arus menjadi berombak. Kemudian Meuse menampakkan hati itu ke permukaan dan membawanya pergi. Setiap rintangan yang dilalui pasti akan berbeda, tetapi sang hati tetap berada pada Meuse yang tenang. Perjalanan yang panjang mungkin meninggalkan luka, tapi setiap goresan luka pada hati itu mengukir sebuah nama padanya. Ukiran indah yang akan selalu ada di sana. Ukiran yang sang hati pun tak mampu menghapusnya. MEUSE.

Seperti hati ini yang jatuh ke arus kehidupanmu, mengoyakmu, dan membuat kau berontak. Namun, kemudian kau terus membawa aku dalam kehidupanmu. Semua masalah yang hadir membuat hatiku semakin yakin bahwa itu kamu. Kamu yang ada untuk bersamaku. Kini di hatiku telah terukir sebuah nama yang semakin hari semakin jelas. Nama yang terukir sejak sebuah cincin melingkar di jarimu. Ya, nama itu adalah namamu, MERLYN.

With love,
Lucas.

Karya: Mariska A. Setiabudi
2013

Chocoladewafel

Di oranyenya musim gugur yang meliputi Belgia, aku melihat senyumnya berlapis lipstik merah muda. Senyum yang terlihat begitu manis ketika menghadap ke sungai Meuse. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi ia terlihat sangat bahagia. Mungkin karena sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya sejak seminggu yang lalu.

"Kayaknya perut sudah minta diisi," mendengar kata-kataku, dia menampakkan bibir pink itu padaku.
"Waffle coklat bisa mengajakku ke Luik," jawab bibir merah muda itu yang kemudian tertawa kecil pada seekor angsa di Meuse. Mungkin dia pikir itu tak akan membuatku pergi mengantarnya ke Luik untuk sepotong waffle cokelat.
"Ayo, mobilku menunggu di depan rumah Oliver."
Aku melihat kedua alisnya naik dan matanya membesar. Namun, aku membelakangi dia yang masih tidak percaya kata-kataku.
  ______________________________________________________

“Twee glazen van warme chocolademelk en twee chocolade wafels. Dan kunt u genieten,” pelayan berbaju putih tersebut pergi meninggalkan meja kami.
“Asik, ini waffle cokelat traktiran Mathias setelah lima tahun yang lalu,” Merlyn membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai memasukkan potongan waffle yang baru saja sampai di meja kami.
“Kamu nggak bertambah elegan sedikit pun,”
Merlyn hanya dapat menatap aku sambil mengunyah waffle yang memenuhi mulutnya.
“Tapi Mathias,” sahut Merlyn ketika potongan waffle sudah masuk sebagian ke kerongkongannya, “waffle cokelat memang paling cocok untuk herfst,” lanjutnya.
Aku tahu, Merlyn memang tidak berubah, apalagi tentang Meuse dan waffle di Luik. Dan jawaban dari kelakuannya itu sama, semua ini cocok untuk herfst.
  ______________________________________________________

“Dimana kau akan tinggal?”
“Aku harus menikmati perjalanan cukup melelahkan dari Luik untuk pulang.”
Aku mengernyitkan dahiku, memandang wanita berlipstik merah muda yang dengan lahap menyantap waffle cokelat traktiranku. “Maksudmu di luar Luik?”
“Dat klopt.”
“Waar? Vertel me,”
“Di suatu tempat yang terdapat sebuah taman besar seperti ini.”
“Hoe ver?” aku memaksa Merlyn untuk memberi tahu aku. Merlyn mengangkat cangkir cokelat panasnya, lalu menyeruputnya. Tatapan Merlyn dalam, seolah ingin menghipnotisku.
“Niet zo ver. Het is Jardin, Luxembourg.”
“Luxembourg?” aku menggebrak meja hingga sendok waffle terjatuh dari meja dan cangkir cokelat panas milikku terguling. “Kenapa Luxembourg? Kenapa Perancis? Bukankah kau paling menyukai Meuse? Bukankah kau paling suka makan waffle cokelat di Luik?” cokelat panas tumpah ke pakaianku, namun aku tidak peduli. “Bukankah kau paling mencintai Belgia?” Bukankah ada aku di Belgia? Pertanyaan terakhir itu tak bisa aku teriakkan. Itu memalukan.
  ______________________________________________________

Wajah cantik Merlyn berubah. Aku kembali duduk di kursiku dan semua orang mulai berbisik-bisik melihat kami. Seorang pelayan berbaju putih menghampiri kami, “Is er iets gebeurd, meneer? Heb je hulp nodig?” kemudian ia mengeluarkan selembar lap dan mulai membereskan semua kekacauan yang aku buat.

“Het spijt me. Het is prima,” aku membersihkan pakaianku dengan lap yang tersedia di meja dan menyuruh pelayan itu untu pergi. Meskipun aku berbohong dengan aku tidak apa-apa. Aku melihat wajah Merlyn masih kaku dengan secangkir cokelat panasnya. Untung saja cokelat panas Merlyn tidak ikut jatuh. “Maafkan aku. Apa kamu tidak apa-apa?”
Aku melihat cangkir yang berada dalam genggaman Merlyn bergetar. “Kenapa setiap waffle cokelat traktiranku berujung emosi?”
 ______________________________________________________

“Lucas pasti tidak akan pernah menggebrak meja dan membentakmu di tempat umum, kan? Di Luxembourg, kau tidak akan menikmati waffle cokelat traktiranku lagi. Semua jajanan di Luxembourg yang kau pilih pasti akan dibelikan oleh Lucas.”
Merlyn tidak menjawab apapun, bahkan sepertinya aku telah memporak-porandakan nafsu makannya yang tadi begitu tinggi.

“Apa kau ingin pulang? Kapan Lucas menjemputmu? Aku akan mengantarmu ke bandara Brussels.” aku mengharap jawaban dari Merlyn melalui suaranya, namun aku tak mendengar jawaban dari bibirnya. Mataku mencuri pandang ke wajah Merlyn yang baru saja kubentak, aku berharap ia akan memarahiku dengan begitu aku bisa meminta maaf darinya.

Bibir merah muda yang kulihat pagi hari di Meuse telah tersapu waffle dengan lapisan cokelat. Menggigil seluruh tubuhnya hingga ia tak dapat menikmati cokelat panas dalam genggamannya. Bulir-bulir air mata mengalir deras membasahi baju warna pastel yang baru saja dibelikan Lucas.


 ______________________________________________________

Terjemah
·         Twee glazen van warme chocolademelk en twee chocolade wafels: Dua gelas cokelat panas dan dua waffle cokelat.
·         Dan kunt u genieten: Selamat menikmati.
·         Herfst: Musim gugur.
·         Dat klopt: Benar.
·         Waar: Dimana
·         Vertel me: Katakan padaku.
·         Hoe ver: Seberapa jauh.
·         Niet zo ver: Tidak begitu jauh.
·         Het is Jardin, Luxembourg: Di Jardin, Luxembourg.
·         Is er iets gebeurd, meneer: Apakah terjadi sesuatu, tuan.
·         Heb je hulp nodig: Apakah Anda membutuhkan bantuan.
·         Het spijt me: Maafkan saya.
·         Het is prima: Tidak apa-apa.

·         
** Bahasa asing diambil dari Google Translate

Karya: Mariska A. Setiabudi
11 Desember 2013

Gadis Tak Berpayung

Mei, kau dengar itu?
iya, itu, suara hujan.
sebenarnya aneh kalau ku sebut "suara hujan", kan?
karena, sesungguhnya, hujan tak bersuara.
yang terdengar adalah suara guntur dan dentuman hujan ke tanah.
Mei, kau lihat itu?
iya, Mei. itu petir.
sambaran mengkilat yang sampai ke langit bumi.
dibarengi dengan suara guntur yang menggelegar,
membuat suasana semakin menjadi.
Mei, lihat itu disana.
parabola berwarna ceria menjadi tanda.
bahwa guntur telah berhenti.
bahwa petir tak datang lagi.
bahwa awan hitam akan segera pergi.
Mei, kalau saja kau hadir di sini.
kalau saja kau ada di sisiku.
kalau saja kau mendengarnya.
kau akan tahu bahwa aku menunggumu
di tengah hujan.
suasana yang kurasakan seperti ketika kita pertama bertemu.
Mei, gadis tak berpayung itu bukan lagi kamu.
dia memiliki mata yang sama denganmu.
dia memiliki gaya yang sama denganmu.
dia memanggilku dengan panggilan yang kau buat untukku.
berlari, mengejar apa yang tak akan pernah tergapai.
tapi, dia tak menangis, Mei.
atau mungkin tangisannya bersama dengan hujan.
Mei, gadis itu tak pernah mau diam di rumah ketika hujan turun.
dia selalu kegirangan melihat awan hitam telah tiba.
dia menyunggingkan senyuman bagai menyambut keluarga kerajaan,
pangeran yang ia nantikan. HUJAN.
dia gadis tak berpayung yang saksikan.
basah. mungkin saja kuyup.
Mei, entah apa yang ada di pikirannya.
tapi, ku rasa, aku melihatmu di sana.
bermain bersamanya.
gadis tak berpayung menunggu pelangi untuk hadir menerangi langit.
Mei, akankah kau ada di sana?
menemani gadis itu?
gadis tak berpayung yang telah tiada.
Hujan.
hujan yang mempermainkanmu.
wahai, gadis tak berpayung.
mengapa kau pertaruhkan hidupmu?
demi pelangi yang tak lagi bercahaya?
Mei, gadisku yang tak pernah menggunakan payung,
itu putrimu, Mei.
hal yang kau  turunkan padanya,
kebiasaanmu tak menggunakan payung.
menyejukkan hatiku.
meski kau tak lagi di sisiku, mei.
gadis ini akan menemaniku. menggantikanmu.
bermain bersama hujan.
dan pulang memelukku.


17 Februari 2013

Jumat, 29 April 2016

Unknown -8 Juli 2013-

Di tengah salju yang turun berkejaran, rasanya aku ingin ditimbun olehnya. Hingga tiada satu pun mata yang dapat melihat aku. Hingga tiada satu pun telinga yang dapat mendengar aku. Hingga tiada satu pun jasad yang dapat menyentuh aku. Salju putih yang tak putih, hapus aku dan semua, perasaan dan jasadku. Biarkan aku menyatu dengannya, hingga tiada yang dapat memisahkan aku darinya.

“Misa!” tangan Shin menarik aku ke pelukannya yang berlapis sweater berwarna merah. Shin menatap aku dengan wajah marah. “Kenapa kamu keluar rumah tanpa satu pun baju hangat? Hari ini sedang hujan salju, kamu tahu itu, kan?”

Shin membentak aku dan kembali memelukku. “Ayo, pulang.”

Salju yang jatuh tidak tahu dimana ia akan mendarat, begitu pula dengan aku yang tidak peduli dimana akhir dari langkah kaki yang kaku ini.

Shin membawaku pulang ke rumah.

Mungkin Shin tidak tahu tentang ini, tapi aku tidak dapat mengelak. Shin adalah adikku dan aku adalah kakak Shin, meski hanya dalam surat. Surat adopsi yang ditandatangani oleh Ayah.

Kenyataan bahwa aku bukan anak Ayah. Kenyataan bahwa aku bukan kakak dari Shin dan Shun. Kenyataan bahwa aku anak adopsi. Kenyataan itu.. aku tidak ingin mengetahuinya.

Wahai salju yang dingin, kubur aku bersamamu. Matikan syaraf-syarafku dengan dinginmu. Bekukan indraku menjadi kaku. Salju putih yang tak putih, hapus aku bersamamu. Hingga tiada lagi yang melihat ada hitam didalammu. Hapuskan sedih yang mengerak di hatiku. Bekukan kelam hingga ia tak bisa menjalar ke seluruh tubuhku. Buat semua deritaku meluncur bersamamu ke suatu tempat yang bahkan mentari tidak tahu.

“Misa.”
“Shun, biarkan aku pergi.”
“Kalau kamu pergi karena Ayah, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Shun, aku bukan anak Ayah.”
“Aku tahu. Aku sangat tahu.”
“Bagaimana dengan Shin?”
“Shin.. Aku yakin dia juga tahu.”
“Shun, aku nggak tahu harus melakukan apa. Aku ingin pergi dari sini.”
“Apa kau pikir dengan pergi dari sini kenyataan bahwa kau bukan anak Ayah akan terhapus?”
“Tidak.”
“Apa kau pikir jika kau bukan anak kandung keluarga ini, kasih sayang Shin dan Ayah padamu akan luntur?”
“Tidak,” air mataku mengalir deras mengetahui jawaban itu sudah absolut dan tidak mungkin berubah. Kasih sayang Ayah dan Shin padaku tidak akan berubah.
“Oy,” Shun menampar kedua pipiku dengan kedua tangannya. Kemudian Shun mengangkat wajahku menghadap ke wajanya yang berada di atas kepalaku. “Nanti air matanya beku, lho.. Nee-chan.”


By: Mariska A. Setiabudi
8 Juli 2013

Another Latte

Hari ini aku berjalan menuju tempat itu. Tempat yang selalu aku datangi bersama dia, tetapi hari ini berbeda, aku datang sendiri.

"Satu cangkir Latte, please. "

Sambil menunggu pesananku datang, aku mengendurkan dasi di leherku. Hari yang melelahkan. Seharusnya aku minta izin pulang saja. Huh. Sambil melihat kursi di hadapanku, aku terus bergumam. Bergumam tentang alasan mengapa kursi itu kosong. Bergumam tentang apa yang telah aku lakukan hari ini. Bergumam tentang apa yang telah aku lakukan selama ini.

"Ini satu cangkir latte Anda, silakan menikmati. Ada lagi yang bisa saya bantu? Hari ini ada harga spesial untuk cake strawberi, mau coba?"

Strawberi? Itu kesukaannya. "Tidak, terima kasih. Hari ini kekasihku tidak datang bersamaku. mungkin lain kali."

"Oh, baiklah. Nikmati waktu Anda. Permisi."

Lain kali? Kapan? Hah.. Satu cangkir latte dan satu kursi yang kosong. Aku benar-benar sendirian. Tidak seharusnya aku datang ke tampat ini. Tapi, surat ini. Surat ini berlabelkan nama orang yang spesial untukku. Berulang kali aku memandang namanya. Tidak ada kesalahan penulisan. Ini benar-benar namanya. Mizushina Natsuki.

Aku pikir, siapa yang berbuat iseng dengan mengirim surat seperti ini. Menggunakan nama Natsuki untuk lelucon. Aku tidak percaya. Natsuki tidak mungkin mengirimkan surat padaku. Aku begitu yakin, seyakin ekspresi wajahnya ketika meninggalkanku. Tapi, surat ini.. Mizushina Natsuki? Jangan pikir kau bisa membodohi aku dengan mudah. Ini pasti hanya lelucon.

Gumamanku tak kunjung selesai, seperti asap yang terus keluar dari secangkir latte di hadapanku. Begitu takut aku membuka surat yang ada di tanganku, setakut ketika aku mendengarkan alasanmu untuk meninggalkanku. “Natsuki.. Apa benar ini surat darimu?”

Seperti panas kopi yang semakin mereda, rasa takutku berangsur-angsur menghilang. Sreekk.. Perlahan aku sobek amplop putih itu dari sisi kecilnya. “Natsuki.. Apa benar ini surat darimu?”

Aku berhenti sejenak untuk menarik nafas. Aku masih belum percaya. Aku meletakkan surat itu di meja dan mulai menegak latte yang sedari tadi aku abaikan. Huh. 15 menit. 15 menit hanya untuk membuka sebuah amplop? Konyol. Aku tak percaya pada apa yang telah aku lakukan.

Aku kembali menatap amplop putih itu. “Mizushina Natsuki”. Tanganku menggapainya, menarik isi dari amplop tersebut. Aneh, surat ini sampai padaku pada hari ini, tetapi surat ini berwarna coklat.

____________________________________________
Dear my love,
Yukimura Leif

Aku berulang kali mencoba untuk menghubungimu, tapi aku selalu mengurungkan niatku itu. Ada hal yang membuat hatiku merasa terganjal. Ada hal yang harus aku sampaikan padamu. Hatiku berulang kali menyebut namamu, tapi mulutku tidak bisa. Otakku berpikir untuk menghampirimu, tapi kakiku tidak bisa. Ada hal yang harus aku sampaikan padamu. Berulang kali aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Air mata ini selalu mendahului suaraku. Hingga langkahmu pergi menjauh. Mata ini hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Maka dari itu, aku menulis surat ini untukmmu.
" Leif, my dear, maafkan aku."

Your beloved,
Mizushina Natsuki
____________________________________________

“Your beloved?”
Aku pikir, apa dia masih memikirkan aku seperti itu. Oke, halaman selanjutnya.

____________________________________________
Yukimura Leif, nice to meet, you.
My name is Frederick Johnson, Natsuki's husband. I'm sorry for my thoughtless act. But, that letter was really written by Natsuki. It wasn't a prank. She must be wrote that when I was not home. She kept it in secret. I found it long after she passed away. I was in a real shock to know about this. But, then, I want you to know about it. That's why I send that letter together with mine. I don't know whether you still in love with her or not. I just want you know how she felt back then.

One day, when she was so ill, she called me. "My husband, I'm sorry". She told me that. I asked her about what she thought about. But, she just smiling and crying at the same time. And then, "I'm sorry. That I make you lost your everything just for me. Sorry to make you love me full-heartedly". After that, she never speaking again. Not long after that she passed away. Yukimura Leif, I hope you understand her circumstances. Don't hold any grudges against her. Please let her rest in peace.

Natsuki's Husband,
Frederick Johnson.
____________________________________________

... Kulipat segera surat-surat itu, lalu kumasukkan kembali ke dalam amplopnya. Cepat-cepat aku menghabiskan kopiku yang sudah dingin dari tadi.

"Permisi, saya ingin membayar."
"Iya. Latte-nya satu? Jadi Rp10.000,00"
"Tolong bungkus satu cake strawberinya."
"Baik. Jadi Rp20.000,00. Terima kasih. Silakan datang kembali."

Datang kembali? Aku tidak yakin aku bisa datang kembali. Huh. Natsuki.. ini cake strawberimu. Terima kasih telah datang kemari. Selamat tinggal.

Aku meninggalkan Natsuki duduk sendiri di kursi itu. Dengan cake strawberi yang kubeli sebagai hadiah untuknya telah hadir duduk menemaniku minum kopi seperti biasanya beserta surat dari suaminya yang begitu mencintainya. Entah bagaimana raut wajahnya ketika aku meninggalkan dia. Tapi ia terdiam tanpa suara dan tak menengokku lagi, seperti aku waktu ia meninggalkanku dulu.

Kemudian sama seperti dulu, suara tangis kepergian ini terdengar hingga di kursi itu.


By: Mariska A. Setiabudi
14 Februari 2014 - 29 April 2016

Rabu, 09 Maret 2016

sensação desconhecida

Berlari-lari kaki kecil itu menjelajahi bumi.
Berputar membentuk sebuah lingkaran.
Sesekali berhenti dan menggantung di atas ayunan.

Sepasang bola mata cokelat berada dalam wajah kecil.
Menatap ke jam besar yang berdiri menjaganya.
Kemudian mencari-cari sesuatu yang tak ada.

"Mama.."
Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya yang tipis.
Mengalir setetes air dari matanya.
Tak lama hujan turun menyambut tangisannya yang makin deras.

Kaki kecil itu kembali berlari.
Mencari tempat kering di bawah perosotan.
Melipat tubuh kecilnya.

Bibirnya mengulang lagi getaran yang sama, "Mama.."
Kemudian menggertak gigi-gigi kecilnya.
Menggigil tubuh mungilnya dibalut dingin.

Oleh: Mariska Amalia Setiabudi
22 Mei 2013