Jumat, 29 April 2016

Unknown -8 Juli 2013-

Di tengah salju yang turun berkejaran, rasanya aku ingin ditimbun olehnya. Hingga tiada satu pun mata yang dapat melihat aku. Hingga tiada satu pun telinga yang dapat mendengar aku. Hingga tiada satu pun jasad yang dapat menyentuh aku. Salju putih yang tak putih, hapus aku dan semua, perasaan dan jasadku. Biarkan aku menyatu dengannya, hingga tiada yang dapat memisahkan aku darinya.

“Misa!” tangan Shin menarik aku ke pelukannya yang berlapis sweater berwarna merah. Shin menatap aku dengan wajah marah. “Kenapa kamu keluar rumah tanpa satu pun baju hangat? Hari ini sedang hujan salju, kamu tahu itu, kan?”

Shin membentak aku dan kembali memelukku. “Ayo, pulang.”

Salju yang jatuh tidak tahu dimana ia akan mendarat, begitu pula dengan aku yang tidak peduli dimana akhir dari langkah kaki yang kaku ini.

Shin membawaku pulang ke rumah.

Mungkin Shin tidak tahu tentang ini, tapi aku tidak dapat mengelak. Shin adalah adikku dan aku adalah kakak Shin, meski hanya dalam surat. Surat adopsi yang ditandatangani oleh Ayah.

Kenyataan bahwa aku bukan anak Ayah. Kenyataan bahwa aku bukan kakak dari Shin dan Shun. Kenyataan bahwa aku anak adopsi. Kenyataan itu.. aku tidak ingin mengetahuinya.

Wahai salju yang dingin, kubur aku bersamamu. Matikan syaraf-syarafku dengan dinginmu. Bekukan indraku menjadi kaku. Salju putih yang tak putih, hapus aku bersamamu. Hingga tiada lagi yang melihat ada hitam didalammu. Hapuskan sedih yang mengerak di hatiku. Bekukan kelam hingga ia tak bisa menjalar ke seluruh tubuhku. Buat semua deritaku meluncur bersamamu ke suatu tempat yang bahkan mentari tidak tahu.

“Misa.”
“Shun, biarkan aku pergi.”
“Kalau kamu pergi karena Ayah, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Shun, aku bukan anak Ayah.”
“Aku tahu. Aku sangat tahu.”
“Bagaimana dengan Shin?”
“Shin.. Aku yakin dia juga tahu.”
“Shun, aku nggak tahu harus melakukan apa. Aku ingin pergi dari sini.”
“Apa kau pikir dengan pergi dari sini kenyataan bahwa kau bukan anak Ayah akan terhapus?”
“Tidak.”
“Apa kau pikir jika kau bukan anak kandung keluarga ini, kasih sayang Shin dan Ayah padamu akan luntur?”
“Tidak,” air mataku mengalir deras mengetahui jawaban itu sudah absolut dan tidak mungkin berubah. Kasih sayang Ayah dan Shin padaku tidak akan berubah.
“Oy,” Shun menampar kedua pipiku dengan kedua tangannya. Kemudian Shun mengangkat wajahku menghadap ke wajanya yang berada di atas kepalaku. “Nanti air matanya beku, lho.. Nee-chan.”


By: Mariska A. Setiabudi
8 Juli 2013

Another Latte

Hari ini aku berjalan menuju tempat itu. Tempat yang selalu aku datangi bersama dia, tetapi hari ini berbeda, aku datang sendiri.

"Satu cangkir Latte, please. "

Sambil menunggu pesananku datang, aku mengendurkan dasi di leherku. Hari yang melelahkan. Seharusnya aku minta izin pulang saja. Huh. Sambil melihat kursi di hadapanku, aku terus bergumam. Bergumam tentang alasan mengapa kursi itu kosong. Bergumam tentang apa yang telah aku lakukan hari ini. Bergumam tentang apa yang telah aku lakukan selama ini.

"Ini satu cangkir latte Anda, silakan menikmati. Ada lagi yang bisa saya bantu? Hari ini ada harga spesial untuk cake strawberi, mau coba?"

Strawberi? Itu kesukaannya. "Tidak, terima kasih. Hari ini kekasihku tidak datang bersamaku. mungkin lain kali."

"Oh, baiklah. Nikmati waktu Anda. Permisi."

Lain kali? Kapan? Hah.. Satu cangkir latte dan satu kursi yang kosong. Aku benar-benar sendirian. Tidak seharusnya aku datang ke tampat ini. Tapi, surat ini. Surat ini berlabelkan nama orang yang spesial untukku. Berulang kali aku memandang namanya. Tidak ada kesalahan penulisan. Ini benar-benar namanya. Mizushina Natsuki.

Aku pikir, siapa yang berbuat iseng dengan mengirim surat seperti ini. Menggunakan nama Natsuki untuk lelucon. Aku tidak percaya. Natsuki tidak mungkin mengirimkan surat padaku. Aku begitu yakin, seyakin ekspresi wajahnya ketika meninggalkanku. Tapi, surat ini.. Mizushina Natsuki? Jangan pikir kau bisa membodohi aku dengan mudah. Ini pasti hanya lelucon.

Gumamanku tak kunjung selesai, seperti asap yang terus keluar dari secangkir latte di hadapanku. Begitu takut aku membuka surat yang ada di tanganku, setakut ketika aku mendengarkan alasanmu untuk meninggalkanku. “Natsuki.. Apa benar ini surat darimu?”

Seperti panas kopi yang semakin mereda, rasa takutku berangsur-angsur menghilang. Sreekk.. Perlahan aku sobek amplop putih itu dari sisi kecilnya. “Natsuki.. Apa benar ini surat darimu?”

Aku berhenti sejenak untuk menarik nafas. Aku masih belum percaya. Aku meletakkan surat itu di meja dan mulai menegak latte yang sedari tadi aku abaikan. Huh. 15 menit. 15 menit hanya untuk membuka sebuah amplop? Konyol. Aku tak percaya pada apa yang telah aku lakukan.

Aku kembali menatap amplop putih itu. “Mizushina Natsuki”. Tanganku menggapainya, menarik isi dari amplop tersebut. Aneh, surat ini sampai padaku pada hari ini, tetapi surat ini berwarna coklat.

____________________________________________
Dear my love,
Yukimura Leif

Aku berulang kali mencoba untuk menghubungimu, tapi aku selalu mengurungkan niatku itu. Ada hal yang membuat hatiku merasa terganjal. Ada hal yang harus aku sampaikan padamu. Hatiku berulang kali menyebut namamu, tapi mulutku tidak bisa. Otakku berpikir untuk menghampirimu, tapi kakiku tidak bisa. Ada hal yang harus aku sampaikan padamu. Berulang kali aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Air mata ini selalu mendahului suaraku. Hingga langkahmu pergi menjauh. Mata ini hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Maka dari itu, aku menulis surat ini untukmmu.
" Leif, my dear, maafkan aku."

Your beloved,
Mizushina Natsuki
____________________________________________

“Your beloved?”
Aku pikir, apa dia masih memikirkan aku seperti itu. Oke, halaman selanjutnya.

____________________________________________
Yukimura Leif, nice to meet, you.
My name is Frederick Johnson, Natsuki's husband. I'm sorry for my thoughtless act. But, that letter was really written by Natsuki. It wasn't a prank. She must be wrote that when I was not home. She kept it in secret. I found it long after she passed away. I was in a real shock to know about this. But, then, I want you to know about it. That's why I send that letter together with mine. I don't know whether you still in love with her or not. I just want you know how she felt back then.

One day, when she was so ill, she called me. "My husband, I'm sorry". She told me that. I asked her about what she thought about. But, she just smiling and crying at the same time. And then, "I'm sorry. That I make you lost your everything just for me. Sorry to make you love me full-heartedly". After that, she never speaking again. Not long after that she passed away. Yukimura Leif, I hope you understand her circumstances. Don't hold any grudges against her. Please let her rest in peace.

Natsuki's Husband,
Frederick Johnson.
____________________________________________

... Kulipat segera surat-surat itu, lalu kumasukkan kembali ke dalam amplopnya. Cepat-cepat aku menghabiskan kopiku yang sudah dingin dari tadi.

"Permisi, saya ingin membayar."
"Iya. Latte-nya satu? Jadi Rp10.000,00"
"Tolong bungkus satu cake strawberinya."
"Baik. Jadi Rp20.000,00. Terima kasih. Silakan datang kembali."

Datang kembali? Aku tidak yakin aku bisa datang kembali. Huh. Natsuki.. ini cake strawberimu. Terima kasih telah datang kemari. Selamat tinggal.

Aku meninggalkan Natsuki duduk sendiri di kursi itu. Dengan cake strawberi yang kubeli sebagai hadiah untuknya telah hadir duduk menemaniku minum kopi seperti biasanya beserta surat dari suaminya yang begitu mencintainya. Entah bagaimana raut wajahnya ketika aku meninggalkan dia. Tapi ia terdiam tanpa suara dan tak menengokku lagi, seperti aku waktu ia meninggalkanku dulu.

Kemudian sama seperti dulu, suara tangis kepergian ini terdengar hingga di kursi itu.


By: Mariska A. Setiabudi
14 Februari 2014 - 29 April 2016