Jumat, 20 Mei 2016

Siluet

Ketika hidup terasa begitu penat,
Ketika semua pengorbanan tidak menghasilkan yang diharapkan,
Hati merasa ingin berhenti dan berhenti,
Tetapi siluet itu terjaga di setiap malam ketika aku pulang.

Ketika lelah telah menyelimuti,
Ketika kerja sudah tiada hasrat,
Siluet itu tetap menanti hadirku di setiap malam ketika yang lain tertidur lelap,
Sebuah lengkungan selalu menyambut hadirku.

Di malam ketika hanya detak jam yang terdengar,
Teh hangat disodorkan padaku di meja makan,
Kulihat tatapan lembut menatapku,
Telinga-telinga siap menyimak curahan hatiku.

Kemudian sisi hati yang lain bertanya,
“Bagaimana bisa aku mengecewakan siluet yang selalu menanti kedatanganku meski bulan hampir kembali pulang?”
Hidupku untuk membahagiakan siluet itu, bukan untuk menyerah karena hati merasa lelah

Siluet itu menyadarkanku, bahwa hidupku bukan untukku saja.


Mariska A. Setiabudi
Suatu hari, 2014

Jumat, 13 Mei 2016

Bunga Liar

Bunga liar itu memang tidak diharapkan kehadirannya. Tapi ia hadir di taman itu dengan berani. Sendiri tanpa satu pun bunga yang sama. Tapi ia menghadapi kesepian itu. Banyak yang menginjak dan ingin mencabutnya, sehingga ia menggunakan duri di sekujur tubuhnya. Banyak yang tak suka, karena menganggap bunga liar itu menyakiti. Namun sesungguhnya, ia hanya ingin melindungi dirinya.

Suatu hati, kau akan menyadari, bahwa bunga liar adalah bunga terbaik. Bunga yang hadir tak memberi syarat. Terus menemani meski banyak rintangan menghadang. Dan bertahan paling lama dibandingkan dengan bunga-bunga yang sengaja ditanam. Yang membutuhkan pupuk, minta disirami. Kalau tidak, ia akan mati. Bahkan sering tidak berbunga dan cepat mati.

Maka, bunga mana yang kau pilih? Bunga liar yang setia, atau bunga taman yang cepat mati?

Karya: Mariska A. Setiabudi
2013

Fajarku dan Senjamu

Di musim gugur yang terlihat seperti fajar dan senja di saat yang bersamaan..
Kau tau? Fajar dan senja yang tak akan pernah bertemu,
Telah membuat kami jatuh cinta.
Aku dan fajar, kamu dan senja.
Dengan begitu, kamu akan terus mempertemukan aku dengan senja.
Dan aku akan terus mempertemukan kamu dengan fajar.
Tak ada musim lain yang mempertemukan keduanya kecuali di musim gugur.
Dan di musim gugur itu pula, kita bertemu.

Karya: Mariska A. Setiabudi
2013

Meuse dan Kamu

Di Meuse, dimana semua dimulai. Dengan liputan pemandangan oranye musim gugur yang tenang. Di saat aliran Meuse begitu tenang, sebuah hati yang menggantung pada sebuah jembatan di Vise jatuh dan memecah arus menjadi berombak. Kemudian Meuse menampakkan hati itu ke permukaan dan membawanya pergi. Setiap rintangan yang dilalui pasti akan berbeda, tetapi sang hati tetap berada pada Meuse yang tenang. Perjalanan yang panjang mungkin meninggalkan luka, tapi setiap goresan luka pada hati itu mengukir sebuah nama padanya. Ukiran indah yang akan selalu ada di sana. Ukiran yang sang hati pun tak mampu menghapusnya. MEUSE.

Seperti hati ini yang jatuh ke arus kehidupanmu, mengoyakmu, dan membuat kau berontak. Namun, kemudian kau terus membawa aku dalam kehidupanmu. Semua masalah yang hadir membuat hatiku semakin yakin bahwa itu kamu. Kamu yang ada untuk bersamaku. Kini di hatiku telah terukir sebuah nama yang semakin hari semakin jelas. Nama yang terukir sejak sebuah cincin melingkar di jarimu. Ya, nama itu adalah namamu, MERLYN.

With love,
Lucas.

Karya: Mariska A. Setiabudi
2013

Chocoladewafel

Di oranyenya musim gugur yang meliputi Belgia, aku melihat senyumnya berlapis lipstik merah muda. Senyum yang terlihat begitu manis ketika menghadap ke sungai Meuse. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi ia terlihat sangat bahagia. Mungkin karena sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya sejak seminggu yang lalu.

"Kayaknya perut sudah minta diisi," mendengar kata-kataku, dia menampakkan bibir pink itu padaku.
"Waffle coklat bisa mengajakku ke Luik," jawab bibir merah muda itu yang kemudian tertawa kecil pada seekor angsa di Meuse. Mungkin dia pikir itu tak akan membuatku pergi mengantarnya ke Luik untuk sepotong waffle cokelat.
"Ayo, mobilku menunggu di depan rumah Oliver."
Aku melihat kedua alisnya naik dan matanya membesar. Namun, aku membelakangi dia yang masih tidak percaya kata-kataku.
  ______________________________________________________

“Twee glazen van warme chocolademelk en twee chocolade wafels. Dan kunt u genieten,” pelayan berbaju putih tersebut pergi meninggalkan meja kami.
“Asik, ini waffle cokelat traktiran Mathias setelah lima tahun yang lalu,” Merlyn membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai memasukkan potongan waffle yang baru saja sampai di meja kami.
“Kamu nggak bertambah elegan sedikit pun,”
Merlyn hanya dapat menatap aku sambil mengunyah waffle yang memenuhi mulutnya.
“Tapi Mathias,” sahut Merlyn ketika potongan waffle sudah masuk sebagian ke kerongkongannya, “waffle cokelat memang paling cocok untuk herfst,” lanjutnya.
Aku tahu, Merlyn memang tidak berubah, apalagi tentang Meuse dan waffle di Luik. Dan jawaban dari kelakuannya itu sama, semua ini cocok untuk herfst.
  ______________________________________________________

“Dimana kau akan tinggal?”
“Aku harus menikmati perjalanan cukup melelahkan dari Luik untuk pulang.”
Aku mengernyitkan dahiku, memandang wanita berlipstik merah muda yang dengan lahap menyantap waffle cokelat traktiranku. “Maksudmu di luar Luik?”
“Dat klopt.”
“Waar? Vertel me,”
“Di suatu tempat yang terdapat sebuah taman besar seperti ini.”
“Hoe ver?” aku memaksa Merlyn untuk memberi tahu aku. Merlyn mengangkat cangkir cokelat panasnya, lalu menyeruputnya. Tatapan Merlyn dalam, seolah ingin menghipnotisku.
“Niet zo ver. Het is Jardin, Luxembourg.”
“Luxembourg?” aku menggebrak meja hingga sendok waffle terjatuh dari meja dan cangkir cokelat panas milikku terguling. “Kenapa Luxembourg? Kenapa Perancis? Bukankah kau paling menyukai Meuse? Bukankah kau paling suka makan waffle cokelat di Luik?” cokelat panas tumpah ke pakaianku, namun aku tidak peduli. “Bukankah kau paling mencintai Belgia?” Bukankah ada aku di Belgia? Pertanyaan terakhir itu tak bisa aku teriakkan. Itu memalukan.
  ______________________________________________________

Wajah cantik Merlyn berubah. Aku kembali duduk di kursiku dan semua orang mulai berbisik-bisik melihat kami. Seorang pelayan berbaju putih menghampiri kami, “Is er iets gebeurd, meneer? Heb je hulp nodig?” kemudian ia mengeluarkan selembar lap dan mulai membereskan semua kekacauan yang aku buat.

“Het spijt me. Het is prima,” aku membersihkan pakaianku dengan lap yang tersedia di meja dan menyuruh pelayan itu untu pergi. Meskipun aku berbohong dengan aku tidak apa-apa. Aku melihat wajah Merlyn masih kaku dengan secangkir cokelat panasnya. Untung saja cokelat panas Merlyn tidak ikut jatuh. “Maafkan aku. Apa kamu tidak apa-apa?”
Aku melihat cangkir yang berada dalam genggaman Merlyn bergetar. “Kenapa setiap waffle cokelat traktiranku berujung emosi?”
 ______________________________________________________

“Lucas pasti tidak akan pernah menggebrak meja dan membentakmu di tempat umum, kan? Di Luxembourg, kau tidak akan menikmati waffle cokelat traktiranku lagi. Semua jajanan di Luxembourg yang kau pilih pasti akan dibelikan oleh Lucas.”
Merlyn tidak menjawab apapun, bahkan sepertinya aku telah memporak-porandakan nafsu makannya yang tadi begitu tinggi.

“Apa kau ingin pulang? Kapan Lucas menjemputmu? Aku akan mengantarmu ke bandara Brussels.” aku mengharap jawaban dari Merlyn melalui suaranya, namun aku tak mendengar jawaban dari bibirnya. Mataku mencuri pandang ke wajah Merlyn yang baru saja kubentak, aku berharap ia akan memarahiku dengan begitu aku bisa meminta maaf darinya.

Bibir merah muda yang kulihat pagi hari di Meuse telah tersapu waffle dengan lapisan cokelat. Menggigil seluruh tubuhnya hingga ia tak dapat menikmati cokelat panas dalam genggamannya. Bulir-bulir air mata mengalir deras membasahi baju warna pastel yang baru saja dibelikan Lucas.


 ______________________________________________________

Terjemah
·         Twee glazen van warme chocolademelk en twee chocolade wafels: Dua gelas cokelat panas dan dua waffle cokelat.
·         Dan kunt u genieten: Selamat menikmati.
·         Herfst: Musim gugur.
·         Dat klopt: Benar.
·         Waar: Dimana
·         Vertel me: Katakan padaku.
·         Hoe ver: Seberapa jauh.
·         Niet zo ver: Tidak begitu jauh.
·         Het is Jardin, Luxembourg: Di Jardin, Luxembourg.
·         Is er iets gebeurd, meneer: Apakah terjadi sesuatu, tuan.
·         Heb je hulp nodig: Apakah Anda membutuhkan bantuan.
·         Het spijt me: Maafkan saya.
·         Het is prima: Tidak apa-apa.

·         
** Bahasa asing diambil dari Google Translate

Karya: Mariska A. Setiabudi
11 Desember 2013

Gadis Tak Berpayung

Mei, kau dengar itu?
iya, itu, suara hujan.
sebenarnya aneh kalau ku sebut "suara hujan", kan?
karena, sesungguhnya, hujan tak bersuara.
yang terdengar adalah suara guntur dan dentuman hujan ke tanah.
Mei, kau lihat itu?
iya, Mei. itu petir.
sambaran mengkilat yang sampai ke langit bumi.
dibarengi dengan suara guntur yang menggelegar,
membuat suasana semakin menjadi.
Mei, lihat itu disana.
parabola berwarna ceria menjadi tanda.
bahwa guntur telah berhenti.
bahwa petir tak datang lagi.
bahwa awan hitam akan segera pergi.
Mei, kalau saja kau hadir di sini.
kalau saja kau ada di sisiku.
kalau saja kau mendengarnya.
kau akan tahu bahwa aku menunggumu
di tengah hujan.
suasana yang kurasakan seperti ketika kita pertama bertemu.
Mei, gadis tak berpayung itu bukan lagi kamu.
dia memiliki mata yang sama denganmu.
dia memiliki gaya yang sama denganmu.
dia memanggilku dengan panggilan yang kau buat untukku.
berlari, mengejar apa yang tak akan pernah tergapai.
tapi, dia tak menangis, Mei.
atau mungkin tangisannya bersama dengan hujan.
Mei, gadis itu tak pernah mau diam di rumah ketika hujan turun.
dia selalu kegirangan melihat awan hitam telah tiba.
dia menyunggingkan senyuman bagai menyambut keluarga kerajaan,
pangeran yang ia nantikan. HUJAN.
dia gadis tak berpayung yang saksikan.
basah. mungkin saja kuyup.
Mei, entah apa yang ada di pikirannya.
tapi, ku rasa, aku melihatmu di sana.
bermain bersamanya.
gadis tak berpayung menunggu pelangi untuk hadir menerangi langit.
Mei, akankah kau ada di sana?
menemani gadis itu?
gadis tak berpayung yang telah tiada.
Hujan.
hujan yang mempermainkanmu.
wahai, gadis tak berpayung.
mengapa kau pertaruhkan hidupmu?
demi pelangi yang tak lagi bercahaya?
Mei, gadisku yang tak pernah menggunakan payung,
itu putrimu, Mei.
hal yang kau  turunkan padanya,
kebiasaanmu tak menggunakan payung.
menyejukkan hatiku.
meski kau tak lagi di sisiku, mei.
gadis ini akan menemaniku. menggantikanmu.
bermain bersama hujan.
dan pulang memelukku.


17 Februari 2013