Jumat, 13 Mei 2016

Chocoladewafel

Di oranyenya musim gugur yang meliputi Belgia, aku melihat senyumnya berlapis lipstik merah muda. Senyum yang terlihat begitu manis ketika menghadap ke sungai Meuse. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi ia terlihat sangat bahagia. Mungkin karena sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya sejak seminggu yang lalu.

"Kayaknya perut sudah minta diisi," mendengar kata-kataku, dia menampakkan bibir pink itu padaku.
"Waffle coklat bisa mengajakku ke Luik," jawab bibir merah muda itu yang kemudian tertawa kecil pada seekor angsa di Meuse. Mungkin dia pikir itu tak akan membuatku pergi mengantarnya ke Luik untuk sepotong waffle cokelat.
"Ayo, mobilku menunggu di depan rumah Oliver."
Aku melihat kedua alisnya naik dan matanya membesar. Namun, aku membelakangi dia yang masih tidak percaya kata-kataku.
  ______________________________________________________

“Twee glazen van warme chocolademelk en twee chocolade wafels. Dan kunt u genieten,” pelayan berbaju putih tersebut pergi meninggalkan meja kami.
“Asik, ini waffle cokelat traktiran Mathias setelah lima tahun yang lalu,” Merlyn membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai memasukkan potongan waffle yang baru saja sampai di meja kami.
“Kamu nggak bertambah elegan sedikit pun,”
Merlyn hanya dapat menatap aku sambil mengunyah waffle yang memenuhi mulutnya.
“Tapi Mathias,” sahut Merlyn ketika potongan waffle sudah masuk sebagian ke kerongkongannya, “waffle cokelat memang paling cocok untuk herfst,” lanjutnya.
Aku tahu, Merlyn memang tidak berubah, apalagi tentang Meuse dan waffle di Luik. Dan jawaban dari kelakuannya itu sama, semua ini cocok untuk herfst.
  ______________________________________________________

“Dimana kau akan tinggal?”
“Aku harus menikmati perjalanan cukup melelahkan dari Luik untuk pulang.”
Aku mengernyitkan dahiku, memandang wanita berlipstik merah muda yang dengan lahap menyantap waffle cokelat traktiranku. “Maksudmu di luar Luik?”
“Dat klopt.”
“Waar? Vertel me,”
“Di suatu tempat yang terdapat sebuah taman besar seperti ini.”
“Hoe ver?” aku memaksa Merlyn untuk memberi tahu aku. Merlyn mengangkat cangkir cokelat panasnya, lalu menyeruputnya. Tatapan Merlyn dalam, seolah ingin menghipnotisku.
“Niet zo ver. Het is Jardin, Luxembourg.”
“Luxembourg?” aku menggebrak meja hingga sendok waffle terjatuh dari meja dan cangkir cokelat panas milikku terguling. “Kenapa Luxembourg? Kenapa Perancis? Bukankah kau paling menyukai Meuse? Bukankah kau paling suka makan waffle cokelat di Luik?” cokelat panas tumpah ke pakaianku, namun aku tidak peduli. “Bukankah kau paling mencintai Belgia?” Bukankah ada aku di Belgia? Pertanyaan terakhir itu tak bisa aku teriakkan. Itu memalukan.
  ______________________________________________________

Wajah cantik Merlyn berubah. Aku kembali duduk di kursiku dan semua orang mulai berbisik-bisik melihat kami. Seorang pelayan berbaju putih menghampiri kami, “Is er iets gebeurd, meneer? Heb je hulp nodig?” kemudian ia mengeluarkan selembar lap dan mulai membereskan semua kekacauan yang aku buat.

“Het spijt me. Het is prima,” aku membersihkan pakaianku dengan lap yang tersedia di meja dan menyuruh pelayan itu untu pergi. Meskipun aku berbohong dengan aku tidak apa-apa. Aku melihat wajah Merlyn masih kaku dengan secangkir cokelat panasnya. Untung saja cokelat panas Merlyn tidak ikut jatuh. “Maafkan aku. Apa kamu tidak apa-apa?”
Aku melihat cangkir yang berada dalam genggaman Merlyn bergetar. “Kenapa setiap waffle cokelat traktiranku berujung emosi?”
 ______________________________________________________

“Lucas pasti tidak akan pernah menggebrak meja dan membentakmu di tempat umum, kan? Di Luxembourg, kau tidak akan menikmati waffle cokelat traktiranku lagi. Semua jajanan di Luxembourg yang kau pilih pasti akan dibelikan oleh Lucas.”
Merlyn tidak menjawab apapun, bahkan sepertinya aku telah memporak-porandakan nafsu makannya yang tadi begitu tinggi.

“Apa kau ingin pulang? Kapan Lucas menjemputmu? Aku akan mengantarmu ke bandara Brussels.” aku mengharap jawaban dari Merlyn melalui suaranya, namun aku tak mendengar jawaban dari bibirnya. Mataku mencuri pandang ke wajah Merlyn yang baru saja kubentak, aku berharap ia akan memarahiku dengan begitu aku bisa meminta maaf darinya.

Bibir merah muda yang kulihat pagi hari di Meuse telah tersapu waffle dengan lapisan cokelat. Menggigil seluruh tubuhnya hingga ia tak dapat menikmati cokelat panas dalam genggamannya. Bulir-bulir air mata mengalir deras membasahi baju warna pastel yang baru saja dibelikan Lucas.


 ______________________________________________________

Terjemah
·         Twee glazen van warme chocolademelk en twee chocolade wafels: Dua gelas cokelat panas dan dua waffle cokelat.
·         Dan kunt u genieten: Selamat menikmati.
·         Herfst: Musim gugur.
·         Dat klopt: Benar.
·         Waar: Dimana
·         Vertel me: Katakan padaku.
·         Hoe ver: Seberapa jauh.
·         Niet zo ver: Tidak begitu jauh.
·         Het is Jardin, Luxembourg: Di Jardin, Luxembourg.
·         Is er iets gebeurd, meneer: Apakah terjadi sesuatu, tuan.
·         Heb je hulp nodig: Apakah Anda membutuhkan bantuan.
·         Het spijt me: Maafkan saya.
·         Het is prima: Tidak apa-apa.

·         
** Bahasa asing diambil dari Google Translate

Karya: Mariska A. Setiabudi
11 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar